Saturday, June 15, 2013

Catrina Fransisca Anak “Bodoh” Itu Ternyata Bisa Jadi Juara Nasional


Anak “Bodoh” adalah label buruk yang seharusnya tidak diungkapkan, apalagi kepada murid yang masih terus mengalami perkembangan kecerdasan dan kejiwaan. Sebagai orang tua dan guru kita seharusnya tidak meremehkan kemampuan anak atau murid kita. Tulisan ini bermaksud menunjukkan kepada kita semua, betapa anak yang katanya “bodoh” bila mendapat perhatian yang baik, latihan latihan yang intensif dan fasilitas yang memadai serta strategi yang jitu, dia bisa tampil percaya diri dan menjadi orang sukses.
Ini kisah di tahun 1994, kisah seorang gadis cilik yang datang dari pedalaman wilayah Indonesia bagian timur. Sebut saja namanya Catrina Fransisca. Ayah Catrina adalah seorang buruh tambang batubara di Kalimantan Timur. Ketika mendaftar di sekolah milik perusahaan tersebut kemampuan Catrina jauh di bawah rata-rata. Mengapa?, bayangkan, anak kelas 2 SMP belum dapat membaca dan menulis dengan baik. Catrina masih mengeja, dan belum paham apa arti bacaan yang dia baca. Tapi koq bisa tamat SD?, itulah uniknya kondisi pendidikan di pedalaman Indonesia bagian timur 20 tahun yang lalu. Karena kurangnya kemampuan membacanya, pihak sekolah dan orang tua memutuskan, Catrina kembali mengulang di kelas 1 SMP. Tidak ada pilihan lain, pihak sekolah masih berkesempatan mendidik Catrina lebih lama disamping kebijakan perusahaan batubara yang menjadikan sekolah di lokasi tambang batu bara sebagai fasilitas bagi karyawan perusahaan tersebut. Tidak ada sekolah lain disekitar wilayah tersebut. Dan sekolah wajib mendidik anak karyawan, apapun kondisi dan kemampuannya.
Seorang guru sahabat saya bernama Katubi. Katubi adalah nama guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Melihat kondisi kekurangan Catrina seperti di atas, Katubi melakukan bimbingan secara intensif. Dengan sabar dan telaten Katubi mengajarkannya membaca dan menulis. Entah apa strategi yang digunakan, yang jelas 4 bulan kemudian, kemampuan membaca Catrina sudah dapat disejajarkan dengan teman sekelasnya. Guru Katubi sering bercerita, dan membahas buku-buku yang dibacanya kepada murid-muridnya. Murid-muridnya begitu giat membaca dan membuat rangkuman dari isi bacaan tersebut. Katubi memilihkan buku yang sesuai untuk Catrina sesuai dengan perkembangan kemampuan membacanya.
Katubi adalah guru yang begitu dekat dengan murid-muridnya. Ia banyak bercerita tentang indahnya keberagaman suku, agama, ras, adat istiadat yang dimiliki bangsa ini. Namun, tidak menutup mata telah terjadi disharmoni yang mengatas namakan agama dan negara. Anak-anak diminta berbicara soal SARA, mereka diminta menulis apa saja yang mereka ketahui dan alami tentang perihal tersebut. Guru tersebut betul-betul mengetahui anak-anak yang hanya tahu lewat cerita buku atau anak-anak yang mengalami dan melihat langsung kekerasan yang terjadi di daerahnya. Anak-anak diajarkan cara mengungkapkan pokok pokok pikiran dan teknik menulis yang benar, namun anak-anak yang memiliki pengalaman langsung terhadap subjek tersebut mendapat bimbingan intensif.
Ketika sebuah organisasi Masyarakat Anti SARA Indonesia mengadakan lomba mengarang Nasional untuk anak, yang bertema “Anak-Anak Berbicara tentang SARA”. Naskah anak-anak yang dibimbingnya dikirim. Ternyata naskah tersebut mendapatkan hasil yang Luar Biasa, 4 orang anak bimbing Katubi berhasil menjadi 10 besar, juara nasional dan dapat unggul menyaingi 570 naskah yang masuk. Ada hal yang luar biasa dan menjadi istimewa, karena salah satu anak yang dibimbing oleh guru Katubi adalah anak yang sama sekali tidak dilirik guru lainnya, anak tersebut tidak terlihat kelebihannya, tidak punya latar belakang prestasi akademis yang bagus. Anak tersebut adalah Catrina Fransica yang ketika masuk sekolah tidak memiliki kemampuan membaca. Atas kegigihannya dan bimbingan guru “hebat” Katubi, Anak “Bodoh” itu telah membuktikan dirinya tidak bodoh dan dia bisa menjadi juara nasional. Tulisan anak tersebut menjadi inspirasi banyak orang dan banyak diulas berita surat kabar nasional.
Berapa banyak anak yang dikatakan bodoh ini kita jumpai?, setidaknya sebagai guru, saya pernah mendidik anak-anak pedalaman dan anak-anak dari daerah transmigrasi. Mereka adalah anak pintar yang belum tersentuh pendidikan yang baik. Mereka berhasil medapatkan beasiswa dari Pemerintah Daerah, Anak-anak yang dulu dikatakan “bodoh” itu, kini sudah ada yang menjadi Sekretaris Camat di wilayahnya setelah menamatkan pendidikan di STPDN, ada yang menjadi dokter gigi, polisi dan kebanyakan menjadi Sarjana Pertanian dan mereka telah kembali menjadi orang sukses dan kebanggaan desanya.

Semoga bisa menjadi renungan karena janganlah kamu berkata tidak sebelum kamu mencoba untuk berkata ya,,,

No comments: